Dianggarkan 5 M Untuk Bina Anak Cacat
Posted by Romy in News
Wednesday, 14 January 2009
Makassar, Departemen Sosial (Depsos) menganggarkan Rp5 miliar untuk pembinaan anak cacat di Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Wirajaya Makassar. Pimpinan PSBD Wirajaya Makassar Muh Sanusi menjelaskan, setiap tahun membina 100anakcacatdariseluruhKawasan Timur Indonesia (KTI). Untuk pembinaan tersebut, Depsos setiap tahunnya memberikan anggaran pembinaan. Anggaran tersebut untuk membiayai kebutuhan anak panti selama belajar dan juga biaya makan dan minum di asrama. Tahun lalu, anggaran yang diberikan sebesar Rp1,8 miliar.
Namun, jumlahnya tidak terealisasi semua, sebab panti selalu mengambil anggaran sesuai jumlah anak binaan. “Beragam anak cacat dibina di panti ini sejak 1954 dan dari binaan kami, sudah ada yang menjadi staf pengajar di tempat ini.Bahkan,mereka sudah diangkat menjadi PNS.Ada juga sejumlah siswa kami yang sudah kembali ke daerah asalnya di NTT,” jelasnya, kemarin ketika ditemui di ruang kerjanya.
Kegiatan belajar mengajar di panti di Jalan Andi Pengerang Pettarani ini, setiap hari berjalan optimal,sama seperti sekolah umum lainnya.Penyandang cacat yang disebut dengan klien, belajar sesuai bidang ilmu yang dipilihnya. Mereka juga menggunakan seragam sekolah yang telahdisediakanpembinapanti. Bahkan, jika pada Jumat, penyandang cacat itu juga menggunakan seragam olahraga.
“Jam belajar dari pagi hingga pukul 14.00 Wita,”paparnya. PSBD Wirajaya Makassar merupakan panti yang menangani penyandang cacat tubuh dari KTI yang sebelumnya bernama Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Tubuh (PRPCT). Lembaga ini merupakan salah satu unit pelaksanaan teknis, yang bertanggung jawab langsung kepada direktorat jenderal pelayanan dan rehabilitasi sosial Depsos. PSDB memiliki kapasitas tampung maksimum 250 orang penyandang cacat tubuh di KTI yang meliputi wilayah Sulawesi,Maluku,Irian Jaya (Papua),Nusa Tenggara dan sebagian Kalimantan.
Setiap hari PSDB memberikan bimbingan, pelayanan dan rehabilitasi sosial yang bersifat kuratif, rehabilitatif,promotif. Itu termasuk bentuk bimbingan fisik, mental, sosial, pelatihan keterampilan,resosialisasi serta mandiri dan berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat serta pengkajian, dan penyiapan standar pelayanan, pemberian informasi dan rujukan.Dengan adanya panti rehabilitasi ini,penyandang cacat tidak lagi merasa dikucilkan. Sebaliknya mereka memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan lebih yang tidak dimiliki manusia yang sempurna.
Di panti tersebut, ada enam jurusan yang bisa dipilih penyandang cacat,di antaranya jurusan percetakan, otomotif, mebel, fotografi, menjahit,dan tata rias. Staf pengajar PSBD Wirajaka MuhArifinAbdullah menambahkan, selain enam jurusan tersebut, klien atau penyandang cacat juga akan diberikan pendidikan ekstrakulikuler, seperti bimbingan kesenian dan kepramukaan. “Bahkan,mereka juga mengikuti sejumlah kegiatan-kegiatan sama seperti kegiatan yang ada di sekolah-sekolah umum,”ujarnya.
Masa pendidikan penyandang cacat PSBD dibatasi hingga dua tahun dan setelah tamat sebagian dari mereka sudah mendapatkan pekerjaan. Sebagian lagi kembali ke kampungnya untuk bekerja sesuai keterampilan. (andi amriani /hikmah tahir - sin)












