Lakshmi Mittal dan Perjuangan Dunia Ketiga
Posted by Romy in TOKOH
Lakshmi N Mittal (56), pendiri konglomerasi baja Mittal Steel Inc, boleh jadi hanya salah satu dari jutaan warga India perantauan yang sukses membangun peruntungannya di negeri orang. Tetapi, bagi banyak kalangan, ia sekaligus menjadi simbol perjuangan dan kemenangan melawan kemapanan dan arogansi nilai-nilai kultur bisnis Eropa.
Siapa yang tak kenal Lakshmi Mittal? Tahun lalu majalah Forbes menempatkan pemilik perusahaan baja terbesar dunia ini sebagai orang terkaya nomor tiga setelah Bill Gates dan Warren Buffett, dengan nilai kekayaan mencapai 25 miliar dollar AS. Ini lompatan dramatis karena tahun sebelumnya ia masih urutan ke-63.
Sebagai orang terkaya di Inggris (versi Sunday Times Rich List), gaya hidup dan kiprah Mittal juga banyak disorot media massa. Mansion megahnya di Kensington Palace Gardens—daerah permukiman elite bekas tempat tinggal Putri Diana di London—beberapa kali diulas oleh media setempat.
Ia membeli rumah megah yang memiliki 12 kamar dengan garasi muat 20 mobil itu dari mantan pembalap Formula One, Bernie Ecclestone, tahun 2004. Dengan harga 128 juta dollar AS, rumah yang pernah ditinggali Paul Reuter (pendiri kantor berita Reuters) ini menjadi rumah pribadi termahal yang pernah ada di dunia, mengalahkan rumah orang terkaya mana pun.
Pada tahun yang sama, ia juga menjadi berita utama berbagai surat kabar dunia ketika tanpa ragu membelanjakan 65 juta dollar AS untuk pesta perkawinan putrinya, Vanisha, yang digelar di beberapa tempat paling bergengsi di Perancis, termasuk pesta pertunangan di Tuileries Gardens di Paris, opera dan resepsi di istana raja di Versailles, konser Kylie Minogue dan makan malam di Vaux le Vicomte Chateau. Mittal mendadak jadi selebritas dunia. Padahal, 30 tahun lalu ia bisa dibilang bukan siapa-siapa.
Migrasi ke Indonesia
Sudah banyak media mengangkat kisah hidup Mittal—yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam skandal politik karena donasinya kepada Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Inggris Tony Blair—digambarkan sebagai gembel yang bermetamorfosis menjadi miliarder.
Pergulatan gigihnya untuk mengakuisisi Arcelor—perusahaan baja terbesar di Eropa yang bermarkas di Luksemburg—menempatkannya sebagai pesakitan di mata para tokoh bisnis dan politisi Eropa yang masih mengagung-agungkan nilai-nilai lama Eropa dan cenderung diskriminatif terhadap ras luar.
Siapa sangka. Mittal yang kini mempekerjakan 224.000 karyawan dan memiliki ratusan perusahaan yang tersebar di empat benua berasal dari sebuah keluarga sangat miskin. Ia lahir dan tumbuh besar di Sadulpur, kota kecil di Negara Bagian Rajasthan, India.
Di rumahnya yang sempit dan hanya berlantai ubin, tinggal 20 anggota keluarga besar Mittal. Mereka tidur berjejalan di atas tempat tidur tali dan memasak di tungku bata di luar rumah.
Nasib keluarga dari kasta Marwari—di India biasanya menjadi pedagang atau rentenir—ini baru membaik setelah mereka pindah ke Calcutta dan ayah Lakshmi Mittal, Mohan Mittal, menjadi mitra pada sebuah perusahaan baja lokal.
Lakshmi Mittal bergabung dalam perusahaan ini setamatnya dari St Xavier’s College, tetapi kemudian memutuskan untuk memulai usahanya sendiri setelah pertengkaran dengan ayah dan saudara-saudaranya.
Mittal membangun kekaisaran bisnisnya benar-benar dari bawah dan termasuk salah satu miliarder yang paling cepat mendulang kesuksesan. Lakhsmi, nama depan Mittal, sendiri diambil dari nama dewi kesejahteraan dalam kepercayaan Hindu.
Di Indonesia
Yang orang tidak banyak tahu, sebelum berimigrasi ke Inggris, ia sudah terlebih dahulu mencoba peruntungan di Indonesia pada tahun 1976, tepatnya di Surabaya, di mana ia membangun perusahaan pertamanya yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Mittal Steel, Ispat Indo.
Kalangan analis melihat strategi akuisisi yang penuh perhitungan dan disiapkan dengan sangat matang sebagai kunci sukses Mittal Steel. Namun, di mata lawan bisnis Mittal—seperti Guy Dolle, CEO Arcelor—Mittal tak lebih hanya burung nasar, "operator kelas bawah" yang menspesialisasikan diri membeli perusahaan-perusahaan rongsokan dengan harga murah.
Mittal Steel sendiri digambarkan Dolle sebagai "kelompok bisnis di bawah rata-rata". Tak dinyana, hanya perlu lima bulan bagi perusahaan seperti ini untuk membeli paksa Arcelor yang menjadi simbol supremasi Eropa di industri baja dunia, tempat Dolle mencari makan selama ini.
Salah satu sukses besar Mittal yang pertama dan fenomenal adalah ketika ia mengakuisisi dan menyulap BUMN baja Trinidad-Tobago yang merugi menjadi perusahaan sehat dan sangat menguntungkan pada akhir tahun 1980-an.
Tahun 2004, ia mengakuisisi sebuah perusahaan baja AS, International Steel Group, dan menggabungkannya dengan dua perusahaan miliknya, Ispat International dan LMN Holdings, menjadi Mittal Steel yang bermarkas di Rotterdam. LMN Holdings sendiri sebelumnya sudah memiliki pijakan kuat di pasar AS, Kanada, Meksiko, Trinidad, Jerman, Perancis, Kazakhstan, Aljazair, Polandia, Romania, Ceko, Afrika Selatan, dan Indonesia.
Untuk semakin mengukuhkan dominasinya di pasar global, sejak Januari, Mittal mulai agresif mengincar Arcelor yang merupakan pesaing terdekatnya. Ambisi mengakuisisi Arcelor terbukti menjadi "pertarungan berdarah-darah" bagi Mittal.
Drama proses akuisisi yang berlangsung alot selama lima bulan menjadi berita terpanas media bisnis selama berbulan- bulan. Transaksi ini sekaligus menandai puncak pencapaian seorang Lakshmi Mittal, ketika akhirnya manajemen lama Arcelor dipaksa takluk di bawah tekanan para pemegang saham untuk menerima tawaran Mittal.
Tawaran terakhir 33,6 miliar dollar AS (membengkak dari tawaran awal 22,6 miliar dollar AS) yang diberikan Mittal jauh lebih menggiurkan dibandingkan dengan proposal merger dari Severstal, perusahaan baja dari Rusia, yang sebenarnya lebih disukai manajemen Arcelor.
Mimpi buruk
Harus diakui, proses hostile take over Mittal Steel terhadap Arcelor yang mengharu biru dan banyak diwarnai intrik, perang mulut, serta taktik kotor dari manajemen lama Arcelor untuk menghalangi masuknya Mittal semakin mencuatkan kontroversi menyangkut dirinya.
Sebagai pemilik sekaligus orang yang paling berperan dalam sukses akuisisi Arcelor, Mittal menjadi sosok yang paling banyak dipuji sekaligus dibenci. Di negeri asalnya, India, ia dianggap sebagai pahlawan. Tetapi bagi CEO Arcelor, Guy Dolle, Mittal hanya berarti satu, mimpi terburuk dalam hidupnya.
Akuisisi paksa oleh Mittal yang mengguncang separuh Eropa memang ibarat tamparan keras bukan saja bagi Dolle, tetapi juga bagi para politisi puncak sejumlah negara Eropa. Seperti halnya pertanian, sektor baja merupakan sektor yang sangat politis dan paling diproteksi di Eropa.
Langkah Mittal yang langsung mengumumkan penawaran tanpa melakukan pendekatan dulu ke manajemen, yang dilihat sebagai upaya India yang masih ingusan untuk menggusur Eropa yang sudah mapan, bagi kebanyakan orang Eropa dianggap kasar dan tidak tahu diri.
Menteri Keuangan Perancis Thierry Breton menuduh Mittal ada masalah grammar (tak tahu unggah-ungguh). Sementara PM Luksemburg Jean-Claude Juncker berpendapat penawaran paksa oleh Mittal Steel pantas ditanggapi secara sama tidak bersahabatnya.
Untuk menghalangi akuisisi oleh Mittal, Pemerintah Luksemburg sebagai pemegang saham terbesar Arcelor—pemegang saham lainnya antara lain Pemerintah Perancis—sampai mengeluarkan aturan khusus yang memberi wewenang manajemen menolak hostile take over tanpa perlu minta pendapat lebih dulu kepada para pemegang saham.
Serunya, meski berkeberatan, pemerintah negara-negara Eropa nyaris tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah akuisisi paksa oleh "anak kemarin sore dari India" ini karena 85 persen saham Arcelor diperdagangkan bebas di pasar saham.
Selain karena alasan Lakshmi Mittal "tak cukup Eropa" meski sudah berpuluh tahun tinggal di Inggris, Mittal Steel juga dianggap perusahaan keluarga karena kepemilikan keluarga 88 persen dan hanya 12 persen sahamnya diperdagangkan di pasar saham sehingga soal governance sangat dipertanyakan.
Meski dikeroyok ramai-ramai, Mittal dengan dukungan para pemegang saham yang semula mendukung Dolle berhasil menuntaskan transaksi akuisisi terbesar dalam sejarah itu.
Di India, drama yang mendapat liputan besar dari detik ke detik di tengah demam Piala Dunia, yang juga menjangkiti India, disambut dengan kebanggaan seakan tim nasional negara itu masuk ke final Piala Dunia. Mittal, yang tidak pernah sesen pun investasi di India sebelumnya, tiba-tiba dipandang bak pahlawan nasional.
Menteri Keuangan India Palaniappan Chidambaram menyebutnya sebagai pencapaian besar seorang warga asal India. Presiden Konfederensi Industri India R Seshasayee mengatakan Mittal telah menorehkan benchmark baru di dunia yang semakin mengglobal, dengan "menaikkan panji-panji kekuatan dunia usaha India di forum global".
Bagi negara-negara dunia ketiga, sukses Mittal mengakuisisi Arcelor sekaligus menandai mulai runtuhnya hegemoni dunia Barat. Secara perlahan dan pasti, kemapanan dan dominasi negara-negara maju tergusur oleh kekuatan ekonomi baru seperti China dan India yang tidak lagi bisa dibendung.(Kompas)












