Anda tidak menemukan apa yg anda cari? Cobalah Google Custom Search!

Custom Search

MENTALITAS MEMINTA: RAHASIA SUKSES?  

Posted by Romy in

Jika ditanya apa yang paling membuat saya bergidik? Bukan hantu, bukan dukun, bukan juga ilmu-ilmu paranormal. Juga bukan pula para pelacur, baik yang perempuan, laki-laki, maupun banci. Namun adalah MENTALITAS MEMINTA.

Saya punya satu kenalan yang isi pembicaraannya tidak lain dan tidak bukan adalah, “Bagaimana cara kita bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya sama sekali?” serta “Yuk, kita pergi nonton, tapi jemput gua dong dan lu yang bayar bensin dan uang karcis masuknya.” Ketika kami diundang makan ke rumahnya, dengan bangga ia mengatakan, “Ayam ini sebenarnya kami tidak beli lho, ini milik mereka (sambil menunjuk ke atas yang ditinggali oleh keluarga lain).” Hah? Yang benar saja. Anda ini pencuri atau “senang” mencuri?

Anehnya, kenalan saya tersebut adalah seseorang yang berpendidikan tinggi sampai bergelar Master dan berusia 30, sudah bersuami pula. Kok ya tidak malu? Dengan bangga pula ia berkata tentang suaminya, “Suamiku itu alon-alon asal kelakon, tidak suka bekerja keras. Cukup kerja part-time saja.” Lha, sekali lagi, lho kok ya tidak malu? Pendidikan tinggi, kesempatan kerja banyak, tapi tidak mau kerja dan makan hasil “colongan” dari orang lain, kok ya tidak malu?

Ada lagi satu contoh dari salah satu freelancer yang saya pekerjakan belakangan ini. Ketika saya minta disiapkan daftar dari perusahaan-perusahaan yang sedang saya analisis sebanyak 200 perusahaan, jawabnya, “Kok banyak sekali?” Tentu saja, untuk mengambil sampel analisis, tidak cukup dengan 10-20 perusahaan, supaya analisis bisa valid. Akhirnya, ia hanya mengirimkan list dari 100 perusahaan saja, yang katanya “banyak banget, nyerahlah saya.” Padahal, ia hanya menyalin dari satu buku direktori saja.

Memang, ia tidak mencuri, namun mentalitas mengeluh dan maunya “enak” saja. Padahal, ini adalah assignment kerja, sungguh membuat hati saya tidak enak. Bayangkan, sudah dibayar mahal, masih juga mengeluh untuk sesuatu yang ia salin saja dari satu buku direktori.

Saya sungguh malu dan bergidik memakan makanan “hasil curian si Master degree holder” dan mendengarkan keluh-kesah tidak karuan seperti itu. Namun pada saat yang sama, saya mesti bisa memaklumi bahwa:

1. Delapan puluh persen manusia mempunyai sifat “loser” seperti itu. Jadi, saya sebenarnya yang “aneh” di mata mereka. Kok ya kerja lebih dari 10 jam per hari dan tidak segan-segan memulai beberapa bisnis sekaligus pada saat yang sama, sambil sekolah S3 pula. Wah, gila, kan saya di mata mereka?

2. Kultur Indonesia yang “alon-alon asal kelakon” dan “kalau bisa makan gratis” dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Jadi sekali lagi, sayalah yang aneh bukan?

3. “Meminta itu pangkal kaya, lho” kalau bisa malah hidup gratis, nggak perlu bayar apa-apa. Itu kata mereka yang “sukses hidup gratis lho,” tapi tidak sukses di dalam hidup. Jadi sekali lagi, saya lagi yang aneh, kan? Masa “rahasia sukses terbesar” adalah memberi? Yang benar saja, Jennie, Jennie….

Betul begitu kan, para pembaca? Ah, memang si Jennie itu “gila” dan “aneh”. Prinsip-prinsip suksesnya totally terbalik dengan kenyataan. Benar begitu, para pembaca? Dunia ini begitu lucu…

Jika Anda berhasil menerapkan semua hal di atas (meminta, mengeluh dan mencuri hak orang lain) dan bisa sungguh-sungguh sukses luar dalam, saya ingin sekali berguru dengan Anda. Sungguh, karena ini jauh lebih mudah daripada kerja keras tanpa mengeluh dan selalu membayar penuh apa yang saya nikmati.[jsb]

* Jennie S. Bev adalah penulis buku laris “Rahasia Sukses Terbesar” dan pemilik beberapa perusahaan di mancanegara. Ia telah menerbitkan lebih dari 60 buku dan 900 artikel dalam Bahasa Inggris dan Indonesia. Ia bisa dijumpai di rumah virtualnya di JennieSBev.com.

BERANI HIDUP  

Posted by Romy in

“Stop worrying, start living.”
~ Anonymous

“One isn't necessarily born with courage, but one is born with potential. Without courage, we cannot practice any other virtue with consistency. We can't be kind, true, merciful, generous, or honest.”
~ Maya Angelou

“Be a warrior, not a worrier.”
~ Jennie S. Bev

Banyak lagu di Indonesia yang bertemakan kesedihan dan kenestapaan... “Betapa kasihannya diriku karena aku orang miskin dan tidak punya. Ayah juga tidak punya, Ibunda juga tiada. Istri juga belum punya, apalagi anak. Rumah juga hanya terbuat dari bilik saja dan bepergian ke mana-mana naik bus kota yang sumpek dan berbau keringat. Seringkali dihina pula. Ah, betapa aku orang yang sungguh perlu dikasihani. Aku segan hidup, tapi belum mau mati.”

Apa yang tersirat di dalam lirik seperti itu? Kurangnya keberanian untuk hidup. Kurangnya rasa syukur yang dalam akan makna hidup yang sebenarnya. Sudah diberi hidup untuk hari ini, masih juga mempermasalahkan kemiskinan dan tidak punya ini dan itu. Padahal, cukup dengan modal “hidup” saja, masalah kemiskinan dan tidak punya pasangan hidup bisa dicari sendiri pemecahannya. Pendapat seperti ini banyak membuat hati saya tidak enak, karena seakan-akan tidak bersyukur sama sekali akan harta tidak ternilai, yaitu kehidupan yang diberikan kepada kita karena kita begitu istimewa di mataNya.

Kekhawatiran luar biasa membebani setiap langkah yang diambil di dalam hidup. Ini sangat tidak baik. Kegalauan hati juga memberi warna kelabu, apalagi ketidakberanian untuk mengubah diri. Dengan mempercayai bahwa diri kita lemah dan tidak berdaya, maka alam bawah sadar kita sungguh percaya bahwa kita itu lemah dan tidak berdaya. Jadilah di dalam benak hanya ada satu yang dicari-cari: rasa belas kasihan bagi diri kita, yang datang baik dari luar maupun dari dalam diri.

Mungkin Anda sekarang berpikir, “Ah, Ibu Jennie ini bisa saja, karena dia toh tidak pernah merasakan naik bus kota. Dia kan ke mana-mana naik mobil mewah dan makan di hotel berbintang lima.” Eit, nanti dulu. Ketika saya kuliah di Depok, saya memang mempunyai pilihan untuk diantar jemput oleh sopir pribadi maupun naik bus kota karena orangtua mampu membiayai, walaupun mungkin dengan sangat pas-pasan. Yang mana pilihan saya, menurut Anda? Naik bus kota setiap hari. Aneh bukan?

Waktu itu belum ada bus Patas ber-AC, sehingga mau tidak mau saya naik bus dari Sarinah ke Pancoran, terus dari Pancoran ke Pasar Minggu, dan dari Pasar Minggu baru ada ‘mobil unyil’ ke Depok. Turun di Margonda yang masih belum sepenuhnya beraspal saat itu, saya jalan kaki di tanah yang kadang-kadang becek di kala musim hujan dan selalu berlumpur tanah merah sepanjang tahun. Repot sekali karena berarti celana jins dan sepatu kets saya mesti dicuci begitu tiba di rumah. Kalau tidak ya tanah merahnya akan menempel permanen nodanya.

(Jenny S.Bev)

KISAH SI PENEBANG POHON  

Posted by Romy in

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”

“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan.

Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Istirahat bukan berarti berhenti.

Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

MENYEBERANGI SUNGAI  

Posted by Romy in

“Guo He”

Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran, Pak Guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya, “Anak-anak, jika suatu hari kita berjalan-jalan di suatu tempat, di depan kita terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya sangat keruh sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut. Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai, tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat kita berdiri.”

“Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikirkan baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.”

Seisi kelas segera ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam. Setelah beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, Pak Guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang.

Kelompok yang lain menjawab: Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab: Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.

Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, Pak Guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba. Yang menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktik. Yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan. Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapan pun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan.”

”Bu Yao Tao Bi Kun Nan”
Jangan melarikan diri dari kesulitan.

Dalam kenyataan hidup, kita semua sebagai manusia selalu mempunyai masalah atau problem yang harus di hadapi, selama kita tidak melarikan diri dari masalah, dan sadar bahwa semua masalah dan rintangan itu harus diatasi, melalui pola pikir dan cara-cara yang positif serta keberanian kita menghadapi semua itu, tentu hasilnya akan maksimal. Hanya dengan action dan belajar, belajar, dan action lagi. Manusia baru bisa mencapai pertumbuhan mental yang sehat dan meraih kesuksesan seperti yang di idam idamkan!

Salam Sukses Luar Biasa!!
Andrie Wongso
www.andriewongso.com

BANGKITLAH INDONESIA  

Posted by Romy in

Tidak terasa, kita telah memasuki tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-62, dan selama itu pula, kita telah mengalami pergantian presiden sebanyak enam kali. Namun, sampai hari ini, cita-cita kemerdekaan yang didengung-dengungkan, yakni kehidupan masyarakat yang adil, makmur, dan sentosa belumlah tercapai. Apalagi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sejak krisis moneter tahun 1997 melanda Asia, kita belum bisa bangkit dari keterpurukan sepenuhnya.

Padahal, sampai tahun 2007 ini, negara lain yang sama-sama terkena imbas krisis seperti Korea selatan, Hongkong, dan Thailand, telah mampu bangkit kembali. Namun, negara kita masih terus menggeliat berusaha untuk bangkit.

Saat ini, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, kita tertinggal. Bahkan, bisa dikatakan kita telah mengalami sejumlah kemunduran, seperti ekonomi, keamanan, politik, hukum, sosial budaya dan olahraga. Belum lagi masalah mutu sumber daya manusia, korupsi, pemerataan pendidikan yang belum dinikmati semua pihak, kemiskinan, narkoba, pertikaian, pengangguran dan segudang masalah, masih menumpuk untuk kita selesaikan bersama. Tentu, untuk mencapainya, kita butuh perjuangan yang panjang.

Walaupun pemerintah dan banyak pihak telah berusaha memperbaiki, namun, ternyata kita masih membutuhkan mental luar biasa untuk bangkit dari semua keterpurukan ini.

Karena itu, menurut saya, agar dapat bangkit dan memperbaiki negara,kita butuh komitmen setiap anak bangsa untuk menghidupkan kembali roh atau jiwa ke-Indonesiaan kita!

Hanya dengan kesadaran dan bangkitnya jiwa ke-Indonesiaan, akan muncul kekayaaan mental atau semangat kebersamaan untuk berjuang secara alami.

Sehingga, kita sadar, tantangan yang kita hadapi hari ini adalah tanggung jawab kita bersama. Hanya dengan perubahan sikap mental yang dimulai dari dalam diri, maka perubahan signifikan akan terjadi.

Dengan begitu, semangat juang untuk Indonesia akan muncul di sanubari setiap putra bangsa. Lewat proses perjuangan dan kerja keras bersama, saya yakin, Indonesia akan mampu tegak kembali, mandiri, maju, dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainya di dunia.

Akhir kata, pesan saya untuk setiap insan Indonesia: Tak peduli bagaimana pun ganasnya badai kehidupan. Tak peduli bagaimana pun beratnya tantangan hidup. Semua cobaan itu tak kan mampu menggoyahkan seseorang yang memiliki keteguhan, kemauan, dan keyakinan.

Dirgahayu Indonesia ke-62.

MERDEKA!!!

Salam sukses luar biasa!!

Andrie Wongso
www.andriewongso.com

KEKUATAN PIKIRAN  

Posted by Romy in

Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya. Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasihat kepada putranya, "Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahkluk jelek, hitam, dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?" sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya.

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orangtuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orangtua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.

Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.

Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. "Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri, kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satu pun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan."

Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu mengubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.

Pembaca yang budiman,

Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!

Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!

Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.

Salam Sukses Luar Biasa!!!!
Andrie Wongso
www.andriewongso.com

Blog Advertising

Masukkan Code ini K1-31B412-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
Hire Me Direct